Lion Air Kembali Berbuat Sewenang-wenang

(Foto : Istimewa)

JAKARTA (netralitas.com) – Sejumlah penumpang pesawat terbang Wing Air yang merupakan grup Maskapai Lion Air menjadi korban tindakan sewenang-wenang. Salah seorang penumpang bernama Taufik mengajukan petisi kepada pemerintah untuk menindak manajemen Lion Air. Berikut adalah kronologi peristiwa yang menimpa sejumlah penumpang : 

Nama saya Taufiq. Saya penumpang Wings Air (Lion Air Group) Rote Ndao tujuan Kupang dengan nomor penerbangan IW 1936 tanggal 8 Juni 2016.

Seperti biasa saya check in di counter Wings Air. Koper saya diminta untuk ditimbang, hasilnya 7,45 kg dan diminta masuk dalam bagasi. Pada awalnya saya menolak karena selama ini bisa masuk dalam bagasi kabin pesawat, tetapi akhirnya saya bersedia memasukkannya dalam bagasi karena beratnya lebih dari 7 kg.

Tidak lama kemudian, terdengar panggilan boarding. Pada saat akan memasuki pesawat, saya melihat kopilot ada dibawah dan menginstruksikan kepada petugas ground handling agar para penumpang tidak masuk sekaligus tapi tiap 5 orang. Saya juga mendengar bahwa jika hal itu tidak dilaksanakan maka pesawat bisa terguling (tipe pesawat ATR 72-500). Selama saya naik pesawat ATR baru kali ini proses boarding dilakukan tiap 5 orang, apalagi mendengar bahwa jika dilakukan dengan cara tersebut pesawat bisa terguling.

Akhirnya semua penumpang duduk di kursi masing-masing. Sekitar 20 menit, pesawat tidak kunjung bergerak, kemudian petugas ground handling mengumumkan (tanpa pengeras suara) bahwa pesawat kelebihan muatan dan meminta kerelaan 3 orang penumpang untuk tidak ikut terbang guna mengurangi beban. Setelah beberapa saat yakni kira-kira 5-10 menit ada 3 orang penumpang yang rela untuk tidak terbang. Anehnya pramugari mengatakan bahwa ketiga penumpang tersebut untuk kembali duduk dan pesawat segera akan take off.

Selama proses take off sampai mendarat, banyak penumpang termasuk saya merasa was-was karena sebelumnya diumumkan bahwa pesawat kelebihan beban dan tidak akan terbang jika tidak ada pengurangan beban (meminta 3 orang penumpang untuk tidak ikut terbang).

Sekitar jam 17.10 WITA pesawat kami mendarat dengan selamat di bandara El Tari Kupang walaupun dengan hard landing. Seperti biasa para penumpang turun dari pesawat dan menunggu di ruang pengambilan bagasi. Keanehan kedua terjadi saat mobil yang biasanya digunakan untuk mengambil bagasi di pesawat untuk kemudian diantar ke belt conveyor tidak membawa 1 pun tas, koper, dus untuk diletakkan di belt conveyor.

Sekitar 10 menit menunggu, saya menanyakan ke petugas Lion mengenai bagasi kami. Saya terkejut ketika petugas tersebut mengatakan bahwa semua bagasi penumpang diturunkan di Bandara Rote Ndao untuk mengurangi beban sehingga pesawat bisa terbang ke Kupang. Para penumpang diminta untuk menunjukkan boarding pass, label bagasi dan KTP untuk kemudian didata. Penumpang diminta untuk mengambil bagasi di Bandara El Tari pada tanggal 9 Juni 2016 jam 16.30 WITA.

Saya dan beberapa penumpang tidak terima dengan kejadian ini karena:

1. Besok pagi kami ada penerbangan menuju kota lain

2. Sudah ada 3 penumpang yang tadi secara suka rela untuk tidak terbang.

3. Penurunan bagasi para penumpang tidak dikonfirmasi ke kami.

Di antara kami ada 1 penumpang yang tasnya berisi obat penyakit gula (injeksi) yang ikut tertinggal. Menurut penumpang tersebut saat di Rote dia telah menjelaskan ke petugas check in bahwa tas miliknya berisi obat gula darah dia dan tidak perlu masuk bagasi tapi petugas tetap memaksa agar tas masuk bagasi.

Dari kejadian ini, petugas angkasa pura bandara El Tari Kupang curiga bahwa terdapat muatan kargo pada pesawat tersebut karena :

1. Tidak mungkin pesawat akan kelebihan beban jika hanya membawa barang-barang penumpang

2. Label bagasi tidak seperti label bagasi biasa nya tapi menggunakan label bagasi "LATE"

3. Proses boarding yang tidak sepeti biasanya.

Rupanya manajemen Lion Air Group tidak jera dengan peringatan dari pemerintah melalu Kementerian Pehubungan setelah kejadian salah turun bis kemarin. Pada saat Kementerian Perhubungan membekukan ground handling Lion Air Group, mereka seolah-olah menantang balik dengan melaporkan salah satu Dirjen Kementerian Perhubungan ke Bareskrim. Setelah beberapa waktu lalu pembekuan dihentikan selama 30 hari dan memberi kesempatan Lion Air Grup untuk berbenah, kejadian ini terjadi.

Kejadian ini menunjukkan :

1. Manajemen Lion Air Group merasa bahwa mereka bisa melakukan sesuka hati mereka tanpa peduli dengan penumpang.

2. Manajemen Lion Air Gr0up merasa mereka tidak tersentuh hukum dengan adanya pembatalan sanksi pembekuan ground handling selama 30 hari.

3. Manajemen Lion Air Group merasa bahwa teguran dari Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan adalah angin lalu saja.

Saya meminta pemerintah melakukan audit investigasi kepada Lion Air Group. Audit ini tidak terbatas pada manajemen ground handling tetapi hingga menyangkut manajemen keselamatan penumpang.

Penulis : Sigit Wibowo

Editor : Sigit Wibowo (sigitwibowo@netralitas.com)

BERITA TERKAIT

Komentar