Ingin Anak Berakhlak Baik? Rahasianya di Sini

(Foto : ist)

SEBAGAI orang tua, mungkin kita sering bertanya, “kenapa anak kita nakal/kurang taat? Dan, Kenapa keluarga kita banyak masalah?

Berdasarkan hasil kajian refleksi manusia terhadap ayat-ayat Ilahi, ternyata antara perilaku anak dan kondisi rumah tangga, terkait erat. Sikap, tindakan, dan amarah orang tua, akan sangat mempengaruhi kehidupan anak.

Menurut DR Mas Agus Puwrwanti, DSc, penulis buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat Semesta, ada keterkaitan antara amarah dan kebencian orang tua terhadap anaknya. Ini sesuai dengan hadits Nabis SAW, “Ridlo Allah ada dalam ridlo kedua orang tua, dan kebencian Allah ada dalam kebencian orang tua.”

Dosen Fisika dan Penggagas Trensains ini mengungkapkan terlihat jelas urutan logika siklus nakalnya anak dengan tidak bijaknya orang tua itu . Siklus logika dimaksud adalah;
- Karena anaknya nakal, maka orang tuanya murka.
- Karena orang tuanya murka, maka Allah juga murka.
- Karena Allah murka, maka tidak turun rahmat di rumah itu.
- Karena tidak turun rahmat di rumah itu, maka keluarga itu akan banyak masalah.
- Karena keluarga itu banyak masalah, maka anaknya tidak merasakan kebahagiaan dan tidak nyaman, sehingga semakin nakal.
 “Prinsip inti siklusnya, sebenarnya ada pada orang tua, yakni ridha Allah berada pada ridhanya orang tua. Murka Allah berada pada murkanya orang tua,” kata Mas Agus.
Dengan demikian, lanjut Mas Agus, strategi paling efisien untuk memutus rangkaian siklus itu, ada pada bagian awal. Yakni mencegah orang tua murka terhadap anak.

“Bila orang tua segera menghadapi anaknya dengan kasih sayang dan tidak dengan kemurkaan, maka orang tua itu menunjukkan kepada Allah bahwa mereka berdua ridla kepada anaknya.
Tentu bukan ridla terhadap kenakalannya, melainkan ridha kepada diri anaknya,” ungkapnya.

Dengan memastikan ridla kepada anak, maka orang tua akan dapat melakukan 3 tahap ini:
1. Segera memaafkan anaknya. Tidak memarahinya sama sekali dan segera berusaha memahami situasi apa yang sedang dihadapi anaknya.

2. Segera menemui anak, berdialog, dan turut mendiskusikan solusi terbaik, apa yang harus diambil oleh anak, orang tua atau pihak lainnya, sambil terus mendoakannya.

3. Segera melupakan segala kesalahan anaknya tadi dan tidak mengungkit-ungkitnya kembali.

Ingat Firman Allah pada Surat 64 (At Taghaabun) ayat 14 berikut ini:

"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya ada di antara isteri-isteri kamu dan anak-anak kamu yang menjadi musuh bagi kamu, oleh itu awaslah serta berjaga-jagalah kamu terhadap mereka dan kalau kamu memaafkan dan tidak marahkan (mereka), serta mengampunkan kesalahan mereka (maka Allah akan berbuat demikian kepada kamu),  kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” (Surah at-Taghabun 64:14)

Dengan konversi murka menjadi ridha, maka sekarang siklusnya jadi begini:

Suatu hari anak itu nakal, orang tuanya segera melakukan 3 tahap itu, dengan penuh kasih sayang, sebagai wujud keridlaan mereka kepada anaknya.
- Karena orang tuanya ridla, maka Allah meridlainya.
- Karena Allah meridlainya, maka rumah yang penuh ridla itu dirahmati Allah.
- Karena rumah itu penuh rahmat Allah, maka keluarga itu penuh kasih sayang, sehingga jadi makin bahagia.
- Karena keluarga itu bahagia, maka anak tidak akan sempat lagi nakal, sebab setiap masalah hidupnya selalu segera mendapat solusi.

Jadi, pada setiap kenakalan anak (mohon maaf), lokasi perbaikannya sesungguhnya bukan pada anak, melainkan pada orang tua si anak.

Penulis : Sht

Editor : Syarif Hidayatullah (eshate@netralitas.com)

BERITA TERKAIT

Komentar