AS Sebut Jamaah Ansharut Daulah di Indonesia, Pengikut ISIS

Ilustrasi. Serangan bom Thamrin Jakarta awal tahun lalu. (Foto : ist)

JAKARTA (netralitas.com) - Amerika Serikat telah menunjuk jaringan ekstrimis terkait Negara Islam (IS) di Indonesia yang melakukan serangan mematikan di Jakarta tahun lalu sebagai organisasi teroris.

Departemen Luar Negeri AS, Selasa (10/1), mengatakan bahwa Jamaah Ansharut Daulah (JAD) adalah "kelompok teroris yang berbasis di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2015 dan terdiri dari hampir dua lusin kelompok-kelompok ekstremis di Indonesia", pengikut IS.

AS juga mengumumkan sanksi terhadap empat militan sebagai bagian dari upaya untuk memutus akses IS dari sistem keuangan internasional.

Para pejabat AS mengatakan militan dari JAD melakukan serangan bunuh diri di ibukota Indonesia pada bulan Januari tahun lalu yang menewaskan empat warga sipil dan empat penyerang tewas dalam serangan pertama IS di Asia Tenggara.

Serangan itu didukung secara finansial oleh militan IS di Suriah, kata mereka.

Departemen Luar Negeri mengatakan konsekuensi dari ditetapkan sebagai kelompok teroris termasuk larangan warga AS terlibat dalam bisnis dengan JAD, dan pembekuan setiap properti terkait dengan kelompok di Amerika.

JAD telah terhubung ke serangkaian plot lain di Indonesia, termasuk serangan bom di sebuah gereja yang menewaskan seorang balita dan rencana untuk meluncurkan bom bunuh diri Natal yang digagalkan ketika militan yang merencanakan serangan, tewas.

Di antara empat militan, dua orang Indonesia.

Bahrumsyah adalah pejuang IS asal Indonesia dengan IS di Suriah yang diyakini memimpin unit radikal itu di Asia Tenggara, dan yang berusaha untuk 'memesan' serangan kembali dan mentransfer dana ke militan.

Militan Indonesia lainnya adalah Aman Abdurrahman, kaum radikal yang dipenjara, yang bertanggungjawab atas serangan di Jakarta dan dianggap pemimpin de facto dari semua pendukung IS di Indonesia, menurut pejabat AS.

Meskipun berada di penjara sejak 2010, ia telah merekrut militan untuk bergabung dengan IS, diduga telah melakukan komunikasi dengan para pemimpin dari kelompok jihad, dan merupakan penerjemah utama untuk propaganda IS di Indonesia.

Departemen Keuangan juga sangsi terhadap dua warga Australia - Neil Christopher Prakash, IS ini perekrut paling senior Australia, dan Khaled Sharrouf, yang telah muncul dalam foto memegang kepala terpenggal dari orang yang dieksekusi oleh jihadis.

Indonesia, negara berpenduduk mayoritas Muslim yang paling padat penduduknya di dunia, telah lama berjuang hadapi militansi Islam dan telah dilanda serangkaian serangan dalam 15 tahun terakhir, termasuk pemboman Bali tahun 2002 yang menewaskan 202 orang.

Sebuah tindakan keras telah melemahkan jaringan yang paling berbahaya, tapi ketakutan tumbuh dari kebangkitan militansi setelah ratusan orang Indonesia berbondong-bondong ke Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir untuk bergabung dengan IS.

 

Penulis : Effatha Tamburian

BERITA TERKAIT

Komentar